Sastra GLBT (Gay Lesbian Bisexual dan Transgender) Sebagai Bagian Budaya Populer (Audience Analysis Terhadap Karya False Colour Oleh Alex Beecroft)

Tags


Image

oleh: Rany Syafrina

Peranan Sastra GLBT dan Kelompok Heterosexual sebagai Market Pasar

Sekarang ini karya GLBT menjadi salah satu genre sastra yang ditujukan khusus kepada audience yang notabenenya adalah heterosexual sebagaimana yang dijelaskan oleh Luca Prone dalam bukunya Enciclopedia of Gay and Lesbian Popular Culture” As Alexander doty and Ben Gove (1997) have pointed out, addressing the topic of lesbian, gay, and queer representation and presence in popular culture now implies challenging the identification of so-called mass and popular phenomena as only created and consumed by heterosexuals. They argue that since the 1970s, lesbians, gays, and queers have become active subjects in popular culture addressing increasingly larger audiences”. Entunya penyataan tersebut kemudian menuntun kita untuk kembali memikirkan alasan-alasan dibalik kenapa masyarakat heterosexual kemudian menggemari jenis karya GLBT terutama M&M romance.

Dalam kaitannya dengan karya Alex Beecroft yang berjudul False Color pada beberapa respond lansung dan review teradap karya tersebut menjelaskan beberapa alasan wanita menggemari M&M romance. Penulis dan beberapa kelompok pembaca yang memberikan respond menjelaskan beberapa alasan apa yang mendasari para wanita membaca dan menulis jenis karya GLBT, seperti yang terdapat dalam livejurnal penulis beserta pembacanya berikut ini:

1. Because women like romance, and if m/m relationships are as normal as m/f ones 2.Because straight women think men are sexy, and two men are doubly sexy.  3. Because women are fed up of dealing with the stresses and strains of being a woman and would like to try being a man for a while, without having to give up the love of a good man 4. Because male characters in books always get to do more interesting things than female ones. 5. Because women are fed up of traditional gender roles and would like to try a relationship where dominance/submission/power was not pre-determined by sex. 6. Because some people are born into female bodies but do not necessarily identify as women 7. Because m/m stories are the only stories you have to tell as an author – because this is your own inalienable writer’s voice and you can do no more than tell the m/m stories or write nothing at all. 8. Because one or more of the author’s characters decided, in that mysterious way characters have, that they were gay, and she couldn’t see any good reason to stop them.9. Because the author has gay friends who love gay romance and they suggested she should try it.10. Because the author wants to increase the representation of gay people in fiction and she thought this was the way to do it. 11. Because the author is herself queer and same sex relationships are her own lived experience, but she fancies writing a story about adventurous men instead of women.  12. Some women wish that men could be a little more like they are, psychologically, and therefore write m/m in order to experiment with an idealized kind of man who is more in touch with his emotions and more vulnerable than the majority of men are perceived to be. 13. Because some women think m/m, f/f and m/f relationships are all equally normal, acceptable and sexy.”

Mrs. Norrison pada postingannya pada 26 april 2009 sebagai perespond lansung diskusi M&M romance menyatakan bahwa alasan kenapa wanita menyukai M&M romance adalah kenyataan bahwa dua orang pria saling mencintai dan melawan arus sosial masyarakat yang menyebabkan mereka menarik, dimana kedua karakter tersebut kemudian melanggar aturan sosial mereka dan menanggung resiko atas hubungan yang mereka jalani.

Peranan karya sastra False Colour yang ditulis oleh Alex Beecroft berada pada dua kelompok, karya sastra tersbut merupakan satu bentuk hiburan populer sekaligus sebagai alat penyampai pembelajaran dan pandangan mengenai homosexual. Karya ini menjadi hiburan populer, terkait dengan statement yang disebutkan oleh Alex diatas mengenai alasan seseorang membaca dan menulis sastra GLBT. Dimana Alex menuliskan” Because women are fed up of dealing with the stresses and strains of being a woman and would like to try being a man for a while, without having to give up the love of a good man“. Hal tersebut dibenarkan oleh pembaca seperti yang ditulis oleh Karla Bushway “My first gay historical romance! Are they always this good? Probably not, darn it. While this is indeed a romance in part, there’s also lots of adventure and a fine cast of characters that surround the story’s couple. There are gritty period details aplenty, along with a gloomy and deadly pall that hangs over men who dared to love the wrong gender”.dari kedua kutipan diatas kita dapat melihat bagaimana seorang pembaca dan juga penulisnya merasa terhibur dengan adanya karya GLBT. Alasan-alasan yang melatar belakangi mereka untuk membaca karya GLBT bisa saja beragam, beberapa dari review pembaca memilih karya False Color karena adanya latar belakang sejarah yang jelas; namun seperti yang dikatakan Alex Beecroft pada Livejuournalnya disebutkan bahwa setidak-tidaknya terdapat 13 alasan yang melatarbelakangi kenapa pembaca heterosexual memilih untuk membaca karya M&M romance. Alasan-alasan tersebut akah secara lebih detail akan di bahas pada bagiansub topik harapan dan pengaruh terhadap pembaca.

Seperti yang saya sampaikan pada bagian sebelumnya, dikatakan bahwa karya sastra GLBT digunakan sebagai  media pembelajaran bagi kaum heterosexual untuk melihat bagaimana dan apa yang terjadi pada kehidupan kaum homosexual. Pada bagian diatas kita telah melihat beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang menulis dan membaca karya sastra GLBT, hal itu tidak hanya didasari oleh fakta dukungan terhadap kaum minoritas yang dalam karya inimerupakan kelompok-kelompok yang memiliki disorientasi sexual. Dalam karya nya Alex Beecroft selain berbicara mengenai romansa kaum homosexual, dia juga berbicara mengenai kemungkinan-kemungkinan bahaya penyakit yang bisa saja diidap oleh kelompok homosexual tersebut. permasalahan mengenai kesehatan merupakan salah satu point penting dalam penulisan GLBT. Karna dalam pemberitaan media dijelaskan bahwa para kelompok GLBT ini memiliki kecendrunganyang lebih besar untuk kemudian terinveksi penyakit seperti penyakit menular sexual dan sebagainya. Dalam buku Encyclopedia of Gay and Lesbian Popular Culture dituliskan bahwa

“Queer visibility within popular culture and within society as a whole increased dramatically also due to spread of AIDS and the ensuring backlash againts homosexual. The media’s representation of the virus and description of the illness as  so called gay plague prompted the need of speak openly about homosexuality. Since homosexual life style were thrown into the limelight, it become increasingly importand for gay people to offer their own representation of themself to the larger society to counter the damning view of the media. While the media presented an image of homosexuality as marginal subject whose deviant behaviour generated the plague” (x-xi).

Dari kutipan diatas kita dapat melihat bahwa dengan menggunakan media, kaum homosexual dapat merepresentasikan golongan mereka terkait isu-isu mengenai penyakit berbahaya terutama AIDS. Dengan menggunakan media yang dinikmati masyarakat secara luas, para homosexual dan kelompok pembela hak kaum minoritas tersebut dapat memberikan pandangan pemahaman kepada para penikmat media yang memiliki kecendrungan heterosexual bahwa homosexual sebagai kelompok minoritas tidalkah seperti apa yang mereka ketahui lewat pemberitaan-pemberitaan yang menyudut.

Falam karya Alex Beecroft kita juga akan menemukan indikasi-indikasi tentang kemungkinan-kemungkinan terkait penyakit menular sexual yang bisa saja menyerang kaum homosexual. Pada karya nya Alex menggambarkan kemungkinan tersebut dengan menggunakan karakter Farrant dimana Alex menuliskan dalam karya nya dimana Benlty selaku doker dari captain Farrant mengatakan “ I must take your vitals” (143). Dalam kutipan tersebut kita dapat mengacu kepada penyakit kelamin yang dialami oleh Farrant akibat aktivitas sodomi yang dilakukannya. Secara tidak lansung Alex dalam karya nya mendeskripsikan kemungkinan kemungkinan penyakit menular sexual (PMS) yang mungkin diidap oleh kalangan homosexual. Karya sastra menjadi salah satu media untuk menyampaikan representasi kalangan homoxesual terhadap kemungkinan kemungkinan terjangkitnya penyakit kelamin akut atau bahkan Aids. Alex sendiri disini berdiri bukan sebagai penulis yang memiliki kecendrungan homosexual, namun sebagai penulis yang melihat kenyataan disekitarnya sebagaimana statement Alex dalam Jurnalive nya bahwa salah satu alasan penulis menulis karya-karya GLBT adalah “because the author has gay friends who love gay romance and suggested she should try it”. Dari kutipan tersebut kita dapat melihat bagaimana lingkungan sosial si pengarang dapat mempengaruhi si pengarang dalam menghasilkan karya GLBT.

Dalam usahanya untuk merepresentasikan kehidupan kaum homosexual, pengarang disini tidak hanya menuliskan bagaimana kemungkinan terjangkitnya penyakit-penyakit menular sexual akibat aktifitas sodomi tersebut, namun pengarang juga menggambarkan kepada pembacanya tentang hal hal yang terkait bagaimana kaum homoxesual melakukan sexual intercourse untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang bagaimana hubungan antara sesama jenis tersebut dapat terjadi. Dalam karya ini Alex Beecroft juga menuliskan scene yang menggambarkan sexual intercourse antara karakter yang terdapat dalam karya. Alex menggambarkan deteiled mengenai sexual intercourse sebagaimana yang ditulisnya pada karyanya “Farrant bend his head to watch as he slid both hands up Alfie’s thight until they rested as his hips thumbs just touching affie’s balls. He made a slow gentle circle with them… one warm hand sliding down  to his his balls and gently kned them, while the other pulled up his shirt to expose his sudddenly eager cock.. as Farrant  hand slick with butter, close over the head of his prick  and stroved firmly down… his eyes flew open as his thight were traped between Farrant’s and the captain lowered himself down onto alfie’s prick. Faking it in with one long, firm push”(113-114). Kutipan diatas menunjukkan detailed informations bagaimana sexual intercourse dapat dilakukan antara sesama jenis. Dalam karya nya Alex Beecroft setidak-tidaknya menuliskan 4 scene yang berisikan inplikasi sexual intercourse, namun hanya tiga diantaranya yang digambarkan secara detailed . kutipan diatas merupakan scene antara Alvie dan farrant, gambaran detailed lainnya terdapat di bagian Jhon dengan Sweet Bess. Sedangkan bagian bab terakhir dalam karya ini menggambarkanaktivitas sexual secara detailed antara dua pemeran utama yaitu Alvie dan John.

Karya sastra GLBT juga berfungsi untuk mengingatkan masyarakat yang heterosexual bahwa mereka secara tidak lansung dalam kehidupan sehari-hari telah melakukan diskriminasi terhadap kalangan homoxesual dan dalam karya sastra praktek-praktek diskriminasi tersebut dapat digambarkan kembali. Pada karya Alex Beecroft, kita juga akan menemukan penggambaran-penggambaran diskriminasi terhadap kaum homosexual yang terdapat dalam kutipan karya Alex Beecroft berikut ini “there is a limit to how long the tide of public opinion can be hold back. There is a limit even to your father’s tolerant for this fitty moral disseas of yours. While your openly sodomitial behaviour attract satiter like this from  group street hacks. Making you a laughing stock of the rabble and oembrassement to your family, my practice and reputation suffer daily by continuing your service”(114). Kutipan diatas kita dapat melihat bagaimana aktivitas homosexual dianggap tidak bermoral dalam masyarakat dimana para pelakunya diolok-olok oleh kelompok sosialnya dan dikucilkan oleh keluarganya karna dianggap membawa malu. Dengan memberikan pemahaman atas tindakan diskriminasi terhadap kaum homosexual, maka pengarang mengharapkan bahwa para pembacanya yang heterosexual apat memahami ap yang terjadi dalam kehidupan kaum homosexual tanpa harus mendiskriminasi kelompok-kelompok marginal tersebut. karya sastra apabila difungsikan sebagai media komunikasi dapat menjadi landasan pembelajaran bagi masyrakat, dalam hal ini mesyarakat heterosexual untuk melihat bagaimana gambaran kehidupan kaum homosexual.

David Morley dalam artikelnya menyebutkan bahwa “Clearly, the media had social effects; these must be examined and researched, but, equally clearly, these effects were neither all-powerful, simple, nor even necessarily direct. Penjelasan tersebut menegaskan pendapat yang mengganggap bahwa media digunakan untuk menimbulkan efek-efek tertentukepada para pembacanya. Seperti yang dijelaskan oleh Sarah Deimer bahwa “how will you know what being gay is like if you never read a gay story? How will you know what we feel, what we think, how we love and live? How are we ever going to get the rights we need, the rights we’re denied, if people think we’re completely alien to everything they understand? If you read a gay story, and you are not gay, for a few days you step into the story’s space, and you learn what it means to love someone the world might think you shouldn’t be with, how love can be so beautiful no matter who loves who, how our hearts are just the same as yours”.dari pendapat yang disampaikan oleh Sarah Deimer tersebut kita dapat melihat fungsi karya sastra GLBT disini terutama M&M romance adalah untuk memberikan kita gambaran bagaimana dan apa yang terjadi dalam kehidupan homosexual. Dan dengan memahami apa yang bisa terjadi dalam M&M romance tersebut para pembaca diajak untukmamahami kenyataan sosial tersebut sebagaimana Sarah menjelaskan dalam tulisannya bahwa sastra GLBT tersebut berfungsi untuk “you learn what it means to love someone the world might think you shouldnt be with”. Pemahaman dan penjelasan dari Sarah tersebut kemudian mengacu kepada pemahaman dan persamaan hak asasi kelompok homoseksual dalam masyarakat.

Pendapat yang sama juga dibenarkan oleh Luca Prono dalam bukunya, dia juga berpendapat bahwa karya GLBT berfngsi sebagai alat untuk memberikan kedudukan  yang nyata terhadap orang-orang dari kelompok homosexual. Selain itu dia juga menambahkan bahwa “Popular culture artifacts are inextricably linked to the social and political milieu in which they are produced, thus reflecting social stereotypes about lesbians, gays, and queers. Yet, some of them also work to subvert such stereotypes and provide a more affirmative vision of homosexuality”. Maksudnya disini adalah, sastra sebagai media sosial berkemungkinan mampu memberikan pencitraan terhadap kaum homosexual, sehingga mereka bisa melihat kaum homosexual dari kacamata yang berbeda. Hal ini lambat laun akan berujung kepada karya sastra sebagai alat untuk menyampaikan bagaimana ketidak adilan yang dialami oleh kaum homoxexual dan bagaiman hak asasi mereka diselewengkan.

Harapan Pembaca dan Dampak Sastra GLBT

Sebagaimana yang dijelaskan pada bagian sebelumnya disebutkan fungsi dari karya sastra GLBT terutama yang berjudul False Colo adalah sebagai media hiburan bagi masyarakat heterogen dan juga sebagai media yang merepresentasikan bagaimana kehidupan kaum homosexual pada masa itu. Sebagai sebuah produk popular, karya GLBT ini juga tidak lepas dari harapan-harapan pembacanya terutama harapan-harapan pembaca heterogennya. Harapan-harapan pembaca tersebut tergambar dari latar belakang yang mendasari seorang pembaca untuk membaca karya sastra GLBT.

Karya GLBT yang biasanya diproduksi oleh penulis yang memiliki disorientasi sexual dengan fokus pasar pembaca homosexual seringkali membahas perjuangan hak-hak dasar yang hendaknya dimiliki oleh pembaca homosexual. Karya GLBT digunakan sebagai bentuk kritikan terhadap masyarakat yang melakukan diskriminasi terhadap kaum homosexual dan kemudian direpresentasikan kembali kedalam karya sastra. Sastra yang dihasilkan oleh pengarang yang memiliki kecendrungan disorientasi sexual biasanya mengangkat wacana-wacana yang lebih berat dengan konflik yang rumit dan seringkali si tokoh utama dalam karya sastra tersebut tidak memperoleh apa yang yang diinginkannya. Berbeda dengan karya-karya GLBT populer yang memang sengaja diproduksi untuk dikonsumsi oleh masyarakat heterosexual dimana konflik cenderung lebih ringan, karna kita akan menemukan harapan-harapan pembaca didalam text sastra tersebut.

Dalam karya GLBT populer kita akan melihat bagaimana karakter utama kemudian bersatu yang merupakan bagian dari harapan pembaca. Harapan pembaca yang saya maksud disini adalah kemungkinan-kemungkinanbagi pasangan sesama jenis untuk kemudian diterima sebagai hal yang biasa dalam masyarakat. Dengan adanya ending yang bahagia bagi karakter homosexual kemudian mendorong pembaca untuk berfikir bahwa hal tersebut juga mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Dari review pembaca yang telah saya kumpulkan terdapat beberapa statement yang mengimplikasikan harapan-harapan pembaca heterosexual yang mengindikasikan keinginan ending yang bahagia bagi kedua karakter utama yang ada di dalam karya tersebut. salah satu nya disampaikan oleh Tony V Sweeney dimana dalam review nya dia menjelaskan bahwa “There’s a Happy Ending but it may not be Everafter. I would’ve opted for both men to cashier out of the navy, retire to a secluded cottage in the English countryside, and live out their days together. Instead, it appears they will remain in their chosen service, living lies, and continually running the risk of death…but at least they’ll be together while they do it”. Kutipan dengan indikasi yang sama juga datang dari Charly T Anchor yang menuliskan “this one left me feeling a little sad. It’s no fault of the author’s; the facts of life back then simply didn’t allow for a very happy life for gay men. The story ends well, but the knowledge that the men’s relationship could be discovered at any moment, which would cause them to be put to death, was never far from my mind”. Dari kedua kutipan diatas kita dapat melihat harapan pembaca yang menginginkan bahwa kedua karakter homosexual dalam karya sastra False Color mengakhiri cerita mereka dengan akhir yang bahagia.

Alex sendiri dalam bukunya tidak benar-benar mengakhiri novelnya dengan  akhir yang benar-benar bahagia dimana kedua karakter didalam karya sastra tersebut dapat hidup dan diterima dalam masyarakatnya. Sebagaimana yang digambarkan Alex Beecroft dalam karya nya ““If this is a sin,” John said quietly, “is it wrong for me to cherish hopes that it will go on forever?”(326), dari kutipan diatas kita dapat mengetahui bahwa kedua karakter homosexual tersebut tidak benar-benar mengakhiri cerita mereka dengan akhir bahagia. Hal ini terjadi karena Alex Beecroft arus tetap  pada alurnya dan setting cerita yang mengacu kepada zaman yang masih melarang adanya praktek sodomi, sehingga tidak ada akhir yang benar-benar bahagia dalam akhir yang digambarkan oleh Alex Beecroft.

Hal yang menarik dari karya GLBT terutama M&M literature adalah bahwa para pembacanya M&M romance ini adalah kebanyakan merupakan wanita yang memiliki kecendrungan heterosexual. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Alex dalam LiveJurnalnya “2.Because straight women think men are sexy, and two men are doubly sexy.  3. Because women are fed up of dealing with the stresses and strains of being a woman and would like to try being a man for a while, without having to give up the love of a good man 4. Because male characters in books always get to do more interesting things than female ones. 5. Because women are fed up of traditional gender roles and would like to try a relationship where dominance/submission/power was not pre-determined by sex.”kutipan diatas menunjukkan bagaimana para pembacanya beranggapan bahwa romance yang terjadi antara karakter pria dalam karya sastra akan menjadikan karya sastra lebih menarik , sedangkan romance antara wanita dan pria sudah dianggap biasa.

Hal ini merepresentasikan harapan pembaca M&M romance yang mengharapkan keabsenan dari karakter wanita. Ellisa Rolle dalam website nya menjelaskan bahwa salah satu alasan dirinya menggemari karya sastra M&M romance adalah “I think there is a strong component of feminism in all this. In the history of romance, there was a trend that has seen the woman turned from object to subject of her destiny, hence the increasingly strong heroines, but that, in some cases, even bother the reader: as Laura Kinsale points out in her contribution to the essay “Dangerous Men, Adventurous Women”, the female reader does not identify herself with the female heroine, but with the male hero, and then, sometimes, almost feels “nuisance” against the woman in the book. In addition, in recent years, women start to “see” the man more and more like a sex object, and thus the natural beauty is essential. So what’s better than a romance where there is no annoying heroine, but there are two great heroes?”. Dalam keutipan tersebut saya menggasumsikan bahwa salah satu alasan wanita memilih untuk membaca M&M romance adalah karena ketika membaca wanita lebih sering menempatkan dirinya debagai hero sehingga mereka melihat karakter wanita sebagai “annoying”.  Dengan absennya karakter wanita didalam karya sastra tersebut, maka para pembaca wanita dapat menempatkan dirinya pada karakter pria yang ada dalam karya sastra tersebut tapa harus mengorbankan keinginan pembaca tersebut untuk melihat karakter-karakter pria lainnya yang mereka idealkan.

Dalam hasil review yang saya kumpulkan kemudian juga ditemukan latar belakang para pembaca memilih karya False Color  sebagai salah satu konsumsi sastra. Beberapa pembaca beranggapan bahwa  False Color tidak semata-mata berbicara mengenai romansa dan sexual intercourse antara sesama jenis saja, tetapi Alex Beecroft juga secara detail memberikan gambaran petualangan dan latar belakang sejarah yang compleks.  Hal ini di dudung oleh beberapa penrnyataan yang dituliskan oleh para pembaca nya, salah satu nya adalah Shanon L Yarbrough “I’d like to point out that Beecroft has put a lot of time and effort into the historical aspect of this book and its characters. She does not treat Cavendish and Donwell as playthings, just moving them around on the page between bed sessions. You will have read almost 100 pages before even getting to the first passionate scene. This proves that Beecroft set out to write a novel that would entertain, not just turn you on”. Pernyataan tersebut juga kemudian didukung oleh pernyataan pernyataan lainnya yang datang dari pembaca False Color yang melihat bahwa karya yang dihasilkan Alex Beecroft ini memiliki latar belakang kesejarahan yang diperoreh dengan penelitian yang mendetail sebagaimana yang diasumsikan oleh pembaca lainnya yang memberikan statement “Beecroft obviously researched the time period and the men’s profession. She includes enough detail about various settings to create a picture of the men’s surroundings without dwelling on minutiae (however accurate and interesting) that would have caused the story to drag. I like detail, but too much of it bores me; the amount in this story was just right for me.” Dari kutipan tersebut kita dapat melihat bagaimana faktor  penelitain kesejarahan yang dilakukan oleh Alex beecroft menjadi salah satu alasan yang menjadikan pembaca tertarik dengan karya sastra yang dihasilkannya.

Dalam karyanya Alex Beecroft memang memberikan informasi yang mendetail tentang penggambaran keadaan masyarakat saat itu, khusus nya sejarah mengenai angkatan laut inggris.  Dalam salah satu statement pembaca dijelaskan bahwa dalam karyanya Alex menggambarkan keadaan setting dengan spesifik, salah satu penggambaran spesifik  setting yang terkait pada masa itu adalah penggambaran keadaan kapat-kapat pertempuran Inggris sebagaimana yang digambarkan Alex dalam karya nya “With his eyes closed, Alfie could smell the smoke of the Great Cabin’s many lanterns; beeswax and turpentine on the polished table; the warm, red smell of port wine. In here—against the hullof the ship—was the scent of oak, and tallow from a bedside candle; the ever-present mildew of a life at sea”(115). Menurut para pembacanya,  gambaran yang diberikan oleh Alex dalam karyanya itu sangatlah well researched, yang menjadikan satu nilai tambah dari karya yang dihasilkan oleh Alex Beecroft tersebut.

Dalam membangun usahanya untuk memberikan pengaruh kepada pembacanya, Alex Beecroft berusaha  membangun konflik yang menimbulkan simpati pembaca sehingga kemudian pembaca memposisikan diri mereka  sebagai pendukung dari kalangan minoritas tereebut. secara tidak lansung penulis membuat para pembacanya merasa bersimpati kepada kedua tokoh homosexual yang terdapat didalamnya, didalamnya penulis memasukkan praktek hukum yang dianggap tidak adil untuk kemudian diapplikasikan kepada setiap karakter homosexual sehingga membangun rasa simpati pembacanya.

Hal tersebut terbukti dengan hasil review yang dikumpulkan dari beberapa pembaca karya False Color yang masing-masing mereka menyatakan rasa simpati dan kekaguman kepada dua karakter utama yang berani menentang sosialnya meskipun mereka bisa saja dijatuhi hukuman mati. Beberapa pembaca seperti Shanon L Yarbrough menyadari akan usaha Alex Beecroft dalam membangun simpati pembaca dimana dalam statement nya dia menyebutkan bahwa “. She obviously cares about these characters and the story itself and wants the reader to care too”. Kutipan ini dipertegas oleh statement yang di sampaikan oleh pembaca lainnya yaitu “As is the case with a lot of historical m/m stories, this one left me feeling a little sad. It’s no fault of the author’s; the facts of life back then simply didn’t allow for a very happy life for gay men. The story ends well, but the knowledge that the men’s relationship could be discovered at any moment, which would cause them to be put to death, was never far from my mind”. Dari kutipan diatas kita dapat melihat pandangan para pembaca terhadap kedua karakter  utama yang ada dalam karya sastra tersebut, yang mengindikasikan rasa simpati terhadap apa yang dihadapi oleh kedua karakter utama tersebut.

Rasa simpati terhadap kedua karakter tersebut dibangun dalam bentuk pembangkangan-pembangkangan yang dilakukan oleh karakter utama terhadap norma-norma yang berlaku pada saat itu terutama pada abad ke 18. Kedua karakter utama pada fiksi ini kemudian melawan arus meskipun mereka beresiko untuk mendapatkan hukuman mati, pernyataan pembaca dari reviews yang ditemukan ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh MRs. Norison pada livejournal sebelumnya. Pembaca merasa simpati kepada karakter yang terdapat dalam karya tersebut karena mereka menjalani kisah percintaan yang tidak sesuai dengan ketentuan pada masyarakat waktu itu dimana semua praktek homoxesualitas dan sodomi harus dihukum mati. Kenyataan bahwa apa yang disajikan dalam M&M romance merupakan sesuatu yang out of ordinary menjadikan para pembaca terdorong untuk membaca karya tersebut.

Salah satu  aspek yang membangun rasa simpati pembaca yang terdapat dalam karya False Color ini adalah Death Penalty yang diberikan kepada setiap pelaku sodomi ataupun homosexual. Dalam karya nya Alex Becroft menuliskan satu pasal peraturan angkatan laut yang berisikan “Article Twenty Eight of the Navy’s law code, the Articles of War that said in no uncertain terms: If any person in the fleet shall commit the unnatural and detestable sin of buggery and sodomy with man or beast, he shall be punished with death by the sentence of a court martial” (145). Isu mengenai Death penalty ini seringkali menjadi topik pembahasan dalam karya yang dituliskan oleh Alex Beecroft ini, terutapma pada bagian-bagian dimana  karakter utama harus berhadapat dengan gejolak didalam dirinya. Seringkali bentuk-bentuk perulangan akan kemungkinan death penalty ini juga disebutkan dalam bentuk ujaran-ujaran lansung seperti yang di ucapkan oleh Farrant “Stop this. Stop chasing love. Love is not for men like us. We share a deviancy we must pay for with lives of exemplary duty. That’s all. You will get yourself hanged if you try to think otherwise.”(116).  Dengan adanya perulangan-perulangan mengenai kemungkinan-kemungkinan akan adanya death pinalty terhadap karakter-karakter pelaku homosexual dan sodomi, penulis kemudian mampu mengggiring pembaca kearah yang diinginkannya, yaitu kearah pembentukan rasa simpati pembaca terhadap karakter utama yang terancam hukuman mati akibat praktik sodominya.

Budaya Penggemar

Budaya penggemar merupakan salah satu ciri-ciri khusus  yang terdapat dalam budaya populer. Pada budaya penggemar tersebut”fans” tidak hanya bersikap sebagaikonsumer yang passive tetapi juga berperan aktif dalam memproduksi kembali teks tersebut berupa respond terhadap karya yang dibacanya. Respond tersebut dapat berbentuk text, gambar, ataupun fan video yang diproduksi oleh masing-masing kelompok penggemar tersebut. dalam budaya penggemar tersebut sebenarnya text GLBt dapat ditemukan dalam dua tipe yaitu Yaoi romance dan slash fiction. Yaoi romance seperti pembahasan sebelumnya meripakan text GLBT yang memang sengaja dibuat untuk para pembacanya yang heterogen, sedangkan slash fiction menurut Ellisa Role merupakan “Slash Fiction is part of the ‘Fan Fiction’: budding writers, or ordinary fans, love to write about possible developments in the story between their favourite characters, usually main characters of a movies or novels”. Jadi bisa dikatakan bahwa slash fiction tersebut sebenarnya hasil dari budaya penggemar yang menceritakan kembali kisah-kisah dari karakter faforit mereka kearah sastra GLBT yang sebenarnya pada karya aslinya tersebut tidak kita temukan “intention” yang demikian tersebut. slash fiction merupakan semerta-merta hasil reproduksi ulang text sebagai respond dari pembaca dan penikmatnya.

Salah satu genre karya GLBT yang paling banyak mendapat respond dari penikmanya adalah komik dan anime. Hal ini karena masing-masing aggota penggemarnya berperan aktif dalam menghasilkan kembali teks-teks  yang mernjadi respond terhadap karya sebelumnya. Bentuk respond yang dihasilkan oleh kelompok penggemar juga beragam, mulai dari fan video, cosplay, gambar, poster, dan sebagainya yang contohnya akan dilampirkan pada bagian akhir paper. Karya Alex Beecrof yang berjudul False Color juga tidak lepas dari respond penggemarnya, salah satu hasil respond penggemar yang ditemukan adalah fan video yang diupload pada youtube.com atas akun Seanbf tertanggal 29 juli 2009.

Dari penjabaran diatas kita dapat menyimpulkan bahwa karya sastra GLBT yang tersebar di kehidupan sosial kita sekarang ini memiliki dua fungsi yang utama, yaitu sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan hiburan danjuga sebagai alat penyambaian ideologi homosexualitas. Dimana alur cerita, karakter dan unsur inrinsik lainnya scara tidak lansung merubah konsep mayarakat mengenai kaum homosexualitas. Dengan karya sstra, maka para pembacanya kemudian membangun rasa simpati, dan mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan homosexual dan tidak smerta-merta menjudge kaum tersebut seperti yang pernah dilakukan kelompok sosial pada masa dulu. Lewat karya GLBT kemudian kelompok-keompok homosexual kemudian mulai membuka diri terhadap masyarakat dan dengan sastra GLBT pula lah masyarakat memahami apa yang ada di lingkungan sosial mereka.

Bibliograpgy

Beecroft, Alex. False Color. US; Pan-American and International Copyright Concentions. 2009

—, alexbeecroft.com. October 26th 2012; 10.15

—. Why do women write m/m fiction? Answers for the men. http://alex-beecroft.livejournal.com/72155.html.  October 26th 2012; 10.17

Benson, Tony. Why Do Straight Women Read Gay Male Erotica?. October 26th 2012. 10.10

Diemer, Sarah. Sharing Stories: Why Straight People Need to Read Gay Books. http://www.gayya.org/?p=252. Oktober 26th 2012. 10.54

Goodread. Goodreads.com

Amazon. Amazon.com

Knight, Geoffrey. Why Straight Women Love Gay Romance. http://bookworld.editme.com/REVIEW-WHY-STRAIGHT-WOMEN-READ-M-M-ROMANCE-by-Geoffrey-Knight-reviewed-by-M-Kei. October 26th 2012; 10.25

Cultural Politics. http://culturalpolitics.net/popular_culture/audience_analysis. October 26th 2012; 09.36

Morley, David. Audience Researchhttp://www.museum.tv/eotvsection.php?entrycode=audiencereses. October 26th, 2012; 09.45

Prono, Luca. Encyclopedia gay and Lesbian Popular Culture. London; Greenwood Press. 2008

Rolle, Ellisa. Why women read Gay Romance and men “apparently” don’t? . http://shared-wisdom.livejournal.com/47327.html. October 26th, 2012; 11.05

Women Position in Minangkabau as seen in Kaba Siti Risani and Rancak Dilabuah

Tags


Image

Oleh: Rany Syafrina

Patriarchal system is also introduced for us as a legitimate rule on our social and cultural life. Patriarchal system introduces us about the ideology which is said that male is superior to the female. In Minagkabau, We know that women have the authority toward the children’s and the good of their family. We as the Minangkabau people assume that we didn’t use the patriarchal system but matriarchal as the basic structure of our social life.

When we saw it deep inside the literary work that ever present as the Minagkabau literary work, we may see that the patriarchal system as the basic of life. It is picturing in two of Kaba (Traditional Story) whis titled Siti Risani and Rancak Dilabuah.

Siti risani is a story about Sutan Nasarudin and Siti Risani, they were falling in love each other when Sutan Nasarudin passed her house and their eyes meet each other. Their love story then continued to the step where both of them sent the love letters. Conflict came when Siti Risani had to marry Sutan Bagindo while in the other hand Nasarudin already married with another girl. Siti Risani made decision to run away from her family then getting married with Sutan Nasarurin.

Rancak Dilabuah is a story about a handsome guy who love to spent the money for nothing, when he owed some money and couldn’t pay it back, he asked his mother to pay. Then he promise to be a gentleman who hear his mother opinion, getting married and became a Penghulu.

From both of the story we may see the position of women toward Minagkabau culture. In Minangkabau we have Bundokanduang as a place to ask about the culture rule, she is a wise and person who knows the traditional rules. Both of the story present the different perspective of women in Minangkabau.

In general, patriarchy system present that women are irrational, weak, nurturing, and submissive which made them out of part on making decision toward the family. If we refer to the story of Siti Risani and rancak Dilabuah, we see that several women just followed the decision that is made for their life. From the story we know that patriarchal system made decision on women life and they accept it.
“mandanga kato nan bak kian, manjawab tuanku bijaksano,……… mukasuik kakak nantun, padi pikiran hati ambo, si upiak siti budiman jo si pakiah candokio,lah bak kapuran jo saoknyo, bak dulang jo tuduang saji, saedaran bumi jo langik, indak karagu dipikiakan, ambo tarimo kato nantun” (Kaba Rancak Dilabuah).

From the quotation above we may see how male character as a father has full authority toward his daughter, and he had authority to make decision on her life, because he didn’t have to asked her daughter to accept the proposed of reject it.

The same act also happens in the story of Siti Risani, where her father made decision toward her life without asking her for the answers.

From both of the story we may see the different position of wife on the family. Sity Risani story present that a wife must take the loyalty and honor to her husband, and give all of the authority to the husband to make decision. But it is different from Kaba rancak Dilabuah, where we saw that a mother as a single parent have power toward her family and she able to made decision for her life and her children life.

Both of the stories present the opposition position on wife power. In Siti Risani story we see that a wife is powerless than her husband because she already neglected by the patriarchal system, in Rancak Dilabuah we see how a single mother have power on her family.

The character of Siti Risani is picturing how a women struggle to madder decision toward her life without any neglected by the patriarchal system. She made decision to run away from her family to live with Sutan Nasarudin as the man that she loves. The movement that she made creates the gibing to her family, where the social already neglected by patriarchal system as the basic structure of social and cultural.

From the analysis above we may see how the patriarchal system neglected the structure of culture, where it develops an ideology that man is superior to the women. Whether we as a Minagkabau assume that we are a matriarchal people but actually the patriarchal system is the root of all the rules. Where male have more authority toward women.

Comparing these two stories we may find an ideology which is said that the women but get married and became a wife who takes care of the children. If the women on the house do not marry, the family will be anxious, and it make married became a must for the women in Minagkabau.

Source:
1. Kaba Rancak Dilabuah. Dt. Panduko Alam. KristalMultimedia cv
2. Kaba Siti Risani. Sutan Nasarudin. KristalMultimedia cv.

Image: http://www.google.co.id/imgres?q=pakaian+adat+wanita+minang&hl=en&tbo=d&biw=1024&bih=636&tbm=isch&tbnid=NNwbHEGNEEJ_DM:&imgrefurl=http://buchyar.pelaminanminang.com/demografi/demografi_sumatera_barat.html&docid=XmtGplJU7kil0M&imgurl=http://buchyar.pelaminanminang.com/demografi/pakaian_adat_wanita_minang.jpg&w=305&h=469&ei=DJwLUfbOINGsrAeArYCIDg&zoom=1&ved=1t:3588,r:2,s:0,i:82&iact=rc&dur=21&sig=109860885588895511954&page=1&tbnh=188&tbnw=122&start=0&ndsp=19&tx=73&ty=63

Mendekonstruksi Matrilineal Sistem di Minangkabau “Pewarisan Harta Pusaka”

Tags


Image

Oleh: Rany Syafrina

Kebanyakan kita berasumsi bahwa dengan mengaplikasikan matrilineal sistem, masyarakat minagkabau berupaya untuk meningkatkan derjat kaum perempuan. Karena garis keturunan masyarakat turun temurun berdasarkan garis keturunan ibu. Tapi apakah benar demikian? Benarkah masyarakat minagkabau menempatkan wanita pada posisi teratas?bagaimana dengan kedudukan Bundo Kanduang? Atau sbenarnya matrilineal system ini di aplikasikan untuk memberikan keterbatasan kepada wanita untuk berekspressi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Pertama tama yang harus dilakukan adalah membedakan antara matrilineal, patrinineal, dan patriarki. Masyarakat matrilineal, tidak berarti tidak menganut konsep patriarki. Matrilineal dan patrilineal adalah sistem garis keturunan yang diturunkan dari generasi ke generasi berdasarkan garis keturunan ibu dan ayah. Sedangkan patriarki adalah sistem sosial dimana laki-laki menjadi pusat organisasi sosial yang memegang otoritas. Bagaimana dengan sistem matrilineal di minangkabau? Pengaplikasian sistem matrilineal di minangkabau mempengaruhi beberapa askpek kehidupan sosial masyarakat. Sistem ini mempengaruhi sistem penurunan harta pusaka, pernikahan, dan sistem kekerabatan lainnya.

Kebanyakan kita berpendapat bahwa menjadi anak perempuan dalam masyarakat Minagkabau adalah suatu keberuntunngan besar, karna harta akan jatuh ke tangan kaum perempuan. Tapi pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kenapa demikinan? Karna harta yang diturunkan kepada kaum perempuan tidak akan pernah di miliki oleh perempuan itu sendiri. Harta pusako yang diturunkan dari mamak ke kemenakan bukanlah harta yang bisa dimiliki oleh perempuan, karna harta tersebut milik kaum yang tidak dapat di perjual belikan, dan harta tersebut tidak bisa dimiliki pribadi/individu. Harta ini berupa sawah, ladang, kolam ikan, pekuburan, tanah ulayal, langgar, dan lainnya. Namun harta tersebut digunakan sebagai jaminan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu tidak lah tepat kiranya jika kita berasumsi bahwa wanita di minagkabau akan mendapatkan harta dari kaum tua mereka, karna perempuan pada dasarnya tidak mendapatkan harta.

Harta pusaka minagkabau terbagi dua, yaitu harta pusaka tinggi yang tidak di ketahui lagi asal usulnya. Harta ini adalah harta kaum yang tidk bisa dimiliki secara individu, dan penurunannya pun dari mamak ke kemenakan. Kedua adalah harta pusaka rendah, harta ini merupakan harta hasil pencarian dari orang tua selama masa perkawinan dan juga mamak yang kemudian dijadikan cadangan harta yang akan menambah harta pusaka tinggi. Apabila harta tersebut di hasilkan oleh orang tua semasa perkawinan, maka harta tersebut akan dibagi dua antara kaum si bapak san ibu.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa pernyataan bahwa harta jatuh ke tangan perempuan tidak sepenuhnya benar, karna harta tersebut merupakan milik kaum yang tidak bisa dibagi-bagi. Tidak benar adanya bahwa mengaplikassian sistem matrilineal di minagkabau di tujukan untuk menempatkan perempuan pada posisi teratas susunan masyarakat. Tidak benar adanya jika harta kaum diturunkan secara turun temurun kepada perempuan. Salah satu yang jelas-jelas diwariskan kepada perempuan adalah suku yang bertujuan untuk mengidentifikasi kaum golongannya.

Jika benar perempuan mendapatkan harta dari para pendahulunya, kenapa masarakat minagkabau memakai istilah penurunan harta yang “diturunkan dari mamak dan kemenakan”. Seperti yang kita ketahui, seorang mamak haruslah seorang laki-laki, itu berarti harta tersebut diturunkan kepada laki-laki kepada laki-laki yang kemudian digunakan untuk kepentingan kaum.

Image: Kebanyakan kita berasumsi bahwa dengan mengaplikasikan matrilineal sistem, masyarakat minagkabau berupaya untuk meningkatkan derjat kaum perempuan. Karena garis keturunan masyarakat turun temurun berdasarkan garis keturunan ibu. Tapi apakah benar demikian? Benarkah masyarakat minagkabau menempatkan wanita pada posisi teratas?bagaimana dengan kedudukan Bundo Kanduang? Atau sbenarnya matrilineal system ini di aplikasikan untuk memberikan keterbatasan kepada wanita untuk berekspressi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Pertama tama yang harus dilakukan adalah membedakan antara matrilineal, patrinineal, dan patriarki. Masyarakat matrilineal, tidak berarti tidak menganut konsep patriarki. Matrilineal dan patrilineal adalah sistem garis keturunan yang diturunkan dari generasi ke generasi berdasarkan garis keturunan ibu dan ayah. Sedangkan patriarki adalah sistem sosial dimana laki-laki menjadi pusat organisasi sosial yang memegang otoritas. Bagaimana dengan sistem matrilineal di minangkabau? Pengaplikasian sistem matrilineal di minangkabau mempengaruhi beberapa askpek kehidupan sosial masyarakat. Sistem ini mempengaruhi sistem penurunan harta pusaka, pernikahan, dan sistem kekerabatan lainnya.

Kebanyakan kita berpendapat bahwa menjadi anak perempuan dalam masyarakat Minagkabau adalah suatu keberuntunngan besar, karna harta akan jatuh ke tangan kaum perempuan. Tapi pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kenapa demikinan? Karna harta yang diturunkan kepada kaum perempuan tidak akan pernah di miliki oleh perempuan itu sendiri. Harta pusako yang diturunkan dari mamak ke kemenakan bukanlah harta yang bisa dimiliki oleh perempuan, karna harta tersebut milik kaum yang tidak dapat di perjual belikan, dan harta tersebut tidak bisa dimiliki pribadi/individu. Harta ini berupa sawah, ladang, kolam ikan, pekuburan, tanah ulayal, langgar, dan lainnya. Namun harta tersebut digunakan sebagai jaminan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu tidak lah tepat kiranya jika kita berasumsi bahwa wanita di minagkabau akan mendapatkan harta dari kaum tua mereka, karna perempuan pada dasarnya tidak mendapatkan harta.

Harta pusaka minagkabau terbagi dua, yaitu harta pusaka tinggi yang tidak di ketahui lagi asal usulnya. Harta ini adalah harta kaum yang tidk bisa dimiliki secara individu, dan penurunannya pun dari mamak ke kemenakan. Kedua adalah harta pusaka rendah, harta ini merupakan harta hasil pencarian dari orang tua selama masa perkawinan dan juga mamak yang kemudian dijadikan cadangan harta yang akan menambah harta pusaka tinggi. Apabila harta tersebut di hasilkan oleh orang tua semasa perkawinan, maka harta tersebut akan dibagi dua antara kaum si bapak san ibu.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa pernyataan bahwa harta jatuh ke tangan perempuan tidak sepenuhnya benar, karna harta tersebut merupakan milik kaum yang tidak bisa dibagi-bagi. Tidak benar adanya bahwa mengaplikassian sistem matrilineal di minagkabau di tujukan untuk menempatkan perempuan pada posisi teratas susunan masyarakat. Tidak benar adanya jika harta kaum diturunkan secara turun temurun kepada perempuan. Salah satu yang jelas-jelas diwariskan kepada perempuan adalah suku yang bertujuan untuk mengidentifikasi kaum golongannya.

Jika benar perempuan mendapatkan harta dari para pendahulunya, kenapa masarakat minagkabau memakai istilah penurunan harta yang “diturunkan dari mamak dan kemenakan”. Seperti yang kita ketahui, seorang mamak haruslah seorang laki-laki, itu berarti harta tersebut diturunkan kepada laki-laki kepada laki-laki yang kemudian digunakan untuk kepentingan kaum.

Image: Kebanyakan kita berasumsi bahwa dengan mengaplikasikan matrilineal sistem, masyarakat minagkabau berupaya untuk meningkatkan derjat kaum perempuan. Karena garis keturunan masyarakat turun temurun berdasarkan garis keturunan ibu. Tapi apakah benar demikian? Benarkah masyarakat minagkabau menempatkan wanita pada posisi teratas?bagaimana dengan kedudukan Bundo Kanduang? Atau sbenarnya matrilineal system ini di aplikasikan untuk memberikan keterbatasan kepada wanita untuk berekspressi dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Pertama tama yang harus dilakukan adalah membedakan antara matrilineal, patrinineal, dan patriarki. Masyarakat matrilineal, tidak berarti tidak menganut konsep patriarki. Matrilineal dan patrilineal adalah sistem garis keturunan yang diturunkan dari generasi ke generasi berdasarkan garis keturunan ibu dan ayah. Sedangkan patriarki adalah sistem sosial dimana laki-laki menjadi pusat organisasi sosial yang memegang otoritas. Bagaimana dengan sistem matrilineal di minangkabau? Pengaplikasian sistem matrilineal di minangkabau mempengaruhi beberapa askpek kehidupan sosial masyarakat. Sistem ini mempengaruhi sistem penurunan harta pusaka, pernikahan, dan sistem kekerabatan lainnya.

Kebanyakan kita berpendapat bahwa menjadi anak perempuan dalam masyarakat Minagkabau adalah suatu keberuntunngan besar, karna harta akan jatuh ke tangan kaum perempuan. Tapi pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Kenapa demikinan? Karna harta yang diturunkan kepada kaum perempuan tidak akan pernah di miliki oleh perempuan itu sendiri. Harta pusako yang diturunkan dari mamak ke kemenakan bukanlah harta yang bisa dimiliki oleh perempuan, karna harta tersebut milik kaum yang tidak dapat di perjual belikan, dan harta tersebut tidak bisa dimiliki pribadi/individu. Harta ini berupa sawah, ladang, kolam ikan, pekuburan, tanah ulayal, langgar, dan lainnya. Namun harta tersebut digunakan sebagai jaminan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu tidak lah tepat kiranya jika kita berasumsi bahwa wanita di minagkabau akan mendapatkan harta dari kaum tua mereka, karna perempuan pada dasarnya tidak mendapatkan harta.

Harta pusaka minagkabau terbagi dua, yaitu harta pusaka tinggi yang tidak di ketahui lagi asal usulnya. Harta ini adalah harta kaum yang tidk bisa dimiliki secara individu, dan penurunannya pun dari mamak ke kemenakan. Kedua adalah harta pusaka rendah, harta ini merupakan harta hasil pencarian dari orang tua selama masa perkawinan dan juga mamak yang kemudian dijadikan cadangan harta yang akan menambah harta pusaka tinggi. Apabila harta tersebut di hasilkan oleh orang tua semasa perkawinan, maka harta tersebut akan dibagi dua antara kaum si bapak san ibu.

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa pernyataan bahwa harta jatuh ke tangan perempuan tidak sepenuhnya benar, karna harta tersebut merupakan milik kaum yang tidak bisa dibagi-bagi. Tidak benar adanya bahwa mengaplikassian sistem matrilineal di minagkabau di tujukan untuk menempatkan perempuan pada posisi teratas susunan masyarakat. Tidak benar adanya jika harta kaum diturunkan secara turun temurun kepada perempuan. Salah satu yang jelas-jelas diwariskan kepada perempuan adalah suku yang bertujuan untuk mengidentifikasi kaum golongannya.

Jika benar perempuan mendapatkan harta dari para pendahulunya, kenapa masarakat minagkabau memakai istilah penurunan harta yang “diturunkan dari mamak dan kemenakan”. Seperti yang kita ketahui, seorang mamak haruslah seorang laki-laki, itu berarti harta tersebut diturunkan kepada laki-laki kepada laki-laki yang kemudian digunakan untuk kepentingan kaum.

Image: http://1.bp.blogspot.com/_mKFN2zjd1oQ/TEFZ2ScUhDI/AAAAAAAAAJM/UEw8m_YlgKE/s1600/rumah_gadang_payaruyung1.jpg