oleh: Rany Syafrina

Pada abad ke 17 wanita masih mengalamipembatasan terhadap hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan. Beberapa profesi pekerjaan seperti guru, dokter, dan beberapa profesi lainnya masih tertutup rapat untuk dimasuki oleh kaum hawa. Sehingga sulit bagi wanita untuk mengihupi dirinya sendiri dengan uang hasil pencariannya sendiri. Beberapa pekerjaan yang dapat dijalankan oleh kaum perempuan adalah sebagai domestic servant atau sebagai pedagang makanan. meskipun beberapa pekerjaan memungkinkan untuk memperkerjakan perempuan, namun kebanyakan wanita pada masa itu memilih untuk menjadi seorang istri yang mengatur rumah tangganya; karena pada masa tersebut setiap keluarga harus membuat sendiri roti, bacon dan kebutuhan keluarga lainya.Kelas sosial juga mempengaruhi aktfitas wanita pada zaman itu, wanita awal berasal dari kalangan menengah kebawah disibukkan oleh pekerjaan rumah tangga atau membantu suami mereka di ladang dan perkebunan. Sedangkan wanita yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi cenderung untuk mengghabiskan waktu mereka untuk belajar musik, dansa, atau berbagai bahasa seperti yunani, latin, spanyol, italia dan prancis. pada abad ke 17 ini pula asrama putri mulai dibuka, dimana para siswinya mulai belajar menulis, musik dan beberapa pelajaran lainnya. Akibatnya, beberapa wanita mulai melihat dunia menulis sebagai salah satu cara untuk menghidupi keluarga mereka, seperti beberapa penulis wanita dibawah ini. Bagi seorang wanita, menjadi penulis pada abad ke 17 tilaklah mudah. Selain karna keterbatasan gerak dan hak perempuan dalam kehidupan sosialnya, wanita juga menjadi sasaran kritikan dari beberapa penulis pria. Seperti Jean de La Bruyere yang mengatakan bahwa wanita tidak memiliki nilai moral, Jean Moliere bahkan mengkritik wanita yang menempuh pendidikan dalam dua drama hasil karyanya yaitu L’Ecole des Femmes dan Les Femme Savantes. Bahkan Daniel Deofoe juga ikut menentang penyetaraan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan antara pria dan wanita. Pada abad ke 17 hanya ada beberapa perempuan yang mempublikasikan hasil karya tulisan mereka seperti yang dilakukan Anne Bradstreet dan Aphra Behn, kedua penulis ini sangatlah terkenal pada masanya.

1. Anne Bradstreet (1612-1672)
Anne Bradstreet adalah penulis puisi pertama di Amerika, Kumpulan pusisinya The Tenth Muse, Lately Sprung Up in America mungkin sangat lah terkenal pada masa itu. Kumpulan puisi tersebut awalnya tidak direncanakan untuk di publikasaikan; adalah salah satu saudara ipar nya yang kemudian mengumpulkan beberapa karyanya dan kemudian dipublikasikan. Kumpulan puisi dari Anne Bradstreed bertemakan tentang kepercayaan dan pandangannnya terhadap ajaran puritan, pengalaman mengenai kehidupan barunya di Amerika dan mengenai keluarganya. Semasa hidupnya Anne Bradstreet dikenal sebagai pemeluk puritan yang taat dan istri yang baik, namun pada beberapa karyanya kita juga dapat melihat ekpressinya terhatap otoritas kaum pria dalam kehidupannya, termasuk tuhan, suami, dan para penulis pria.
Sejarah kehidupan pribadi: dilahirkan di Inggris pada tahun 1612, Anne Bradstreet diberikan kesempatang yang cukup besar untuk membaca. Menginjak usia 16 tahun Anne Bradstreet menikahi Simon Bradstreet dan menetap di Amerika pada tahun 1630, dan menyaksikan lansung penyerangan Native America, bencana kelaparan dan penyakit yangmelanda Amerika pada waktu itu.

Image

2. Aphra Behn (1640-1689)
Berbeda dengan Anne Bradstreet, Arpha Bern memutuskan untuk menjadi penulis wanita untuk menghidupi keluarganya. Aphra Behn adalah wanita pertama yang bekerja sebagai penulis wanita dan melihat peluang tersebut untuk mengumpulkan uang pada saat dia berumur 30 tahun. Meskipun Aphra Behn mampu untuk mengihupi kehidupannya, namun dia tidaklah begitu dihormati dalm ruang lingkup lingkunyannya. Ini dikarenakan karna beberapa karya tulisannya dianggap tidak sopan, beberapa karyanya menggambarkan keterbukaannya terhadap sexual dan bahkan cenderung fulgar. Virginia Woolf dalam bukunya A Room of One’s Own bahkan mengutip “yes, by living the life of Aphra Behn! Death would be Better!”. Semasa hidupnya Aphra Behn menghasilkan 14 drama, 4 novel dan kumpulan puisi, san kebanyakan karyanya bertemekan sex dan gender.
Sejarah kehidupan pribadi: Semana hidupnya Aphra Behn sering kali terlibat skandal yang terkait dengan tulisannya yang vulgar. Sejarah tentang kelahirannya tidak begitu jelas, tetapi beberapa peneliti meyakini bahwa Aphra Behn menghabiskan masa kanak-kanaknya di Suriname, Afrika Selatan. Aphra Behn kemudian menikahi Mr. Behn yang kemudian meninggal pada tahun 1664 tanpa meninggalkan cukup uang. Aphra Behn juga pernah menjadi mata-mata Inggris di Anttwerp, Aphra Behn juga pernah dipenjara karna dirinya tidak sanggup melunahi hutang piutang nya.

Bibliography:
Zillboorg, Caroline. Women’s Writing: Past and Present. United Kingdom: Cambridge University Press.2004
The Literature Lover’s Comparison, Who Wrote and What When. London: Geddes and Grosset. 2005
Lambert, Tim. 17 Century Women. http://www.localhistories.org/17thcenturywomen.html. 17 Oktober 2011.

juga dapat dilihat di: http://ranisyafrina.multiply.com/reviews/item/27

image: http://www.google.co.id/imgres?q=aphra+behn&hl=en&tbo=d&biw=1024&bih=636&tbm=isch&tbnid=ZPIvgIsG2rMbxM:&imgrefurl=http://en.wikipedia.org/wiki/File:Aphra_Behn.jpg&docid=VDhdflnhidTYcM&imgurl=http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/d/d0/Aphra_Behn.jpg&w=1073&h=1424&ei=L1oLUdGWMseNrgeYt4CQBg&zoom=1&ved=1t:3588,r:1,s:0,i:93&iact=rc&dur=1&sig=109860885588895511954&page=1&tbnh=174&tbnw=131&start=0&ndsp=19&tx=83&ty=90