Image

Oleh Rany Syafrina

pada abad ke 20 telah terdapat variasi dalam jenis dan bentuk tulisan dari penulis wanita, beberapa diantara mereka mulai memfokuskan tulisan mereka dalam karya sastra untuk anak, atau karya sastra fiksi. meskipun demikian, mereka masih tetap harus berjuang untuk menghilangkan asumsi “female” dalam tulisan mereka yang beranggapan bahwa tulisan perempuan dibaca oleh kaum perempuan saja. beberapa penulis wanita dari kaum marginal juga kemudian mulai meniti kakrir mereka lewat karya tulis.
tidak hanya pada karya tulis mereka saja, tetapi askpek-aspek kehidupan wanita pada abad ke 20 juga mengalami perubahan dan pada abad ini lah wanita mulai membentuk organisasi yang dikhususkan untuk wanita dan pergerakannya. dan pada pertengahan abad ke 20 wanita-wanita di erope telah mulai memantapkan karir mereka pada aspek-aspek sosial, politik dan budaya. berikut ini adalah beberapa penulis wanita pada abad ke 20 yang terkenal lewat karya-karya yang mereka hasilkan.

1. Sylvia Plath

Salah satu karya Sylvia Plath yang paling terkenal berjudul The Bell Jar yang dipublikasikan pada tahun 1963, selain terkenal; karyanya The bell Jar juga merupakan sebuah Autobiographycal novel. Pada novelnya Sylvia Plath mendeskripsikan betapa horornya pengalamnannya ketika harus mendapatkan electro-schock-treatment sebagai salah satu terapi yang harus dia dapatkan selama peneyembuhan kegagalan mentalnya. Plath memutuskan untuk mengakhiri hidupnya pada 11 februari tahun 1963 setelah ditinggalkan suaminya Hughes pada tahun 1962. Tulisan-tulisannya sebagian besar ditujukan kepada sang ibu, Letter Home yang kemudian diPublikasikan pada 1975 merupakan kumpulan sura-suratnya kepada sang ibu.

2. Corry Ann Duffy

Corry Ann Duffy dikenal sebagai penyair dan penulis buku untuk anak-anak, beberapa diantaranya berjudul Rumpelstilskin and other Grimm Tales yang dipublikasikan pada tahun 1999 dan Queen Munch and Queen Nibble pada tahun 2002. Puisi-puisinya berisikan tentang pengalaman-pengalaman yang dapat dia bagikan kepada kaum muda. Duffy mengkategorikan dirinya sebagai penyair lesbian, meskipun demikian keberadaan penulis homosexual cukup menghawatirkan perdana mentri Inggris. Sebagai mana yang dikutip dalam The Sunnday Times, 9 May 1999 yang bertuliskan “worried about having a homosexual as a poet laureate because of how it might play in middle England”. Karya tulisan dari Duffy tidak ditujukan untuk kalangan tertentu, meskipun dia seorang feminist namun karya-karyanya tidak memusatkan wanita sebagai topik utama dalam tulisannya. Salah satu karyanya Cafe Royal berisikan tentang seorang pemuda yang berharap bisa menyelamatkan Oskar Wilde dari percobaan sodomi, subsequent conviction, hukuman penjara, dan kesepian yang mematikan di Paris.

3. Agatha Christie

Siapa yang tidak kenal dengan Agatha Christie, yang juga dikenal dengan The Queen of Crime. Agatha Christie adalah seorang novelist Inggris yang menggunakan Racun sebagai instrument utamanya dalam membunuh karakter-karakter dalam karya tulisnya. Lahir pada tahun 1890, Agatha Christie kemudian menikahi Archie Christie pada tahun 1914 dan kemudian bekerja sebagai seorang perawat. Pada saat dia bertugas sebagai seorang perawatlah dia mempunyai ide untuk menulis cerita detektif yang kemudian selesai setahun kemudian, namun baru lima tahun setelah itu dipublikasikan pada tahun 1920. Setelah ditinggalkan suaminya, Agatha Christie kemudian menikahi Max Mallowman pada tahun 1930. Selama hidupnya Agatha Christie menulis 66 novel dan dinobatkan sebagai Queen of The Golden Age. Selain dikenal sebagai Agatha Christie, dirinya juga menggunakan nama pena Mary Westmacott. Karyanya yang berjudul Orient Express (1974) bahkan di adaptasi kedalam sebuah film.

Penulis Wanita Abad ke 21

Pada abad ke 21, telah banyak wanita yang menuangkan ide-ide feminisnya dalam sebuah karya tulis. Tidak hanya dalam karya fiksi seperti novel puisi dan drama tetapi juga dalam jurnal yang berisikan pendalaman terhadap teori-teori feminis.ide-ide feminist tidak lagi menjadi hal yang tabu dalam karya tulis wanita, beberapa penulis wanita malah secara gamblang nya menuangkan pandangan mereka terhadap isu-siu sensitif seperti gay, lesbian, transgender, dan bisexual. karya sastra GLBT tidalk lagi menjadi hal yang tabu dalam dunia kepenulisan, meskipun hal tersebut masih menimbulkan pertentangan dalam sosial masyarakat kita.Untuk itu pada tulisan berikutnya marilah kita melihat beberapa karya penulis wanita yang topiknya bertolak belakan dari yang lain. Menjadi seorang penulis bagi seorang wanita bukan lah hal yang tabu lagi, lewat tulisan-tulisan yang mereka hasilkan wanita kemudian menyampaikan kritikan-kritikan mereka yang menentang traditional gender role, persamaan hak dalam politik, pendidikan, dan ekomoni.

1. J. K Rowling

Kita semua tentu tau dengan Harry Potter yang tidak hanya dikenal sebagai seri novel Fiksi tetapi juga diadaptasi menjadi beberapa seri film. Harry Potter ditulis oleh J K Rowling seorang penulis Inggir yang mempublikasikan seri pertama Harry Potter pada hatun 1997 yang berjudul Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. J K Rowling sebelumnya sempat mengalami krisis financial sebelum Harry Potter sukses di publikasikan. Harry Potter dibagi menjadi 7 seri novel yang masing-masingnya berjudul: Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Harry Potter and the Goblet of Fire, Harry Potter and the Order of the Phoenix, Harry Potter and the Half-Blood Prince, Harry Potter and the Deathly Hallows. Selain seri dari Harry Potter, J K Rowlin juga mempublikasikan beberapa buku Lainnya seperti : Fantastic Beasts And Where To Find Them, Quidditch Through the Ages, dan The Tales of Beedle the Bard.

2. Alex Beecroft

Berbeda dengan J K Rowling, Alek Beecroft dikenal sebagai penulis MxM Romance atau male and male romance. Salah satu karyanya Berjudul False Color tidak hanya berisikan isu-isu homosexual tetapi juga berlatar belakan sejarah angkatan laut Inggris pada abad ke 18. Selain False Color dia juga menulis beberapa novel dengan tema yang sama seperti: Captain’s Surrender dan By Honored Betrayed yang dipublikasikan november 2011. Selain menulis male and male romance, Alex Beecroft juga menulis beberapa cerita fiksi seperti The Witch’s Boy. Pada blog nya Alex Beecroft menjelaskan beberapa alasan kenapa seorang wanita tertarik untuk menulis malexmale romance, diantaranya dia menyebutkan bahwa beberapa wanita merasa lelah untuk menjadi wanita dalam yang menimbulkan kadangkala menimbulkan stress dan berimajinasi menjadi seorang laki-laki tanpa menghilangkan keinginan untuk menemukan laki-laki yang baik, aspek lainnya yang juga memungkin kan adalah sebagai bentuk kejenuhan terhadap traditional gender role. Setidak-tidak nya Alex Beecroft menjelaskan 13 kemungkinan kenapa seorang wanita tertarik untuk menulis malexmale romance. “Pada awalnya karyanya yang bertema malexmale romance ditolak oleh publisher Inggris, namun kemudian karyanya tersebut kemudian dipublikasikan lewant salahsatu penerbit di Amerika” (referensi dr percakapan dengan si penulisnya sendiri).

isu-isu feminist memang masih menjadi topik utama beberapa penulis wanita, beberapa diantara mereka berupaya untuk menggambarkan keterpurukan yang mereka alamai pada daerah dengan konflik perang seperti afganistan. tidak hanya perjuangan wanita pada daerah konflik perang yang menjadi sorotan beberapa penulis wanita, tetapi juga perjuangan wanita di daerah timur dengan praktek patriakal yang masih kental, seperti Kia Abdullah
dalam novelnya Life, Love and Assimilation. masih ada beberapa penulis asia lainnya yang juga ikut memperjuangkan nasib wanita dalam karya tulis seperti; Shaila Abdullah yang memfokuskan karyanya tentang kehidupan wanita palestina.

jika dulunya wanita menulis untuk konsumsi pribadi dan keluarganya, sekarang, wanita dapat mempublikasikan karya tulisannya tanpa harus menggunakan nama pena untuk menyembunyikan gender mereka. penulis wanita juga mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan pengakuan terhadap karya yang mereka tulis dengan memenagkan penghargaan seperti Booker Prize. beberapa penulis wanita yang masuk nominasi dan memenagkan booker prize pada abad ke 21 adalah: Rachel Seiffert (2001), Carol Ann Shields (2002), Sarah Waters (2002,2006,2009), Margaret Eleanor Atwood (2003), Clare Morrall (2003), Sarah Hall (2004), Kate Grenville (2006), Emma Donoghue (2011). memenangkan Nobel Prize in Literature bukan lah tidak mungkin bagi seorang penulis wanita, seperti Herta Müller yang memenagkan Noble Prize in Literature pada tahun 2009 dan Doris Lessing (2007).

Bibliography:
Zillboorg, Caroline. Women’s Writing: Past and Present. United Kingdom: Cambridge University Press.2004
http://alexbeecroft.com/
http://alex-beecroft.livejournal.com/72155.html
http://christie.mysterynet.com/
http://www.listal.com/list/harry-potter-series

disa dilihat juga di :http://ranisyafrina.multiply.com/reviews/item/31

image: http://www.google.co.id/imgres?q=sylvia+plath&hl=en&tbo=d&biw=1024&bih=636&tbm=isch&tbnid=OhLzIbiJDnt-wM:&imgrefurl=http://www.guardian.co.uk/books/2013/jan/18/olwyn-hughes-sylvia-plath-literary-executor&docid=clZTKAY_X3d5NM&imgurl=http://static.guim.co.uk/sys-images/BOOKS/Pix/pictures/2013/1/18/1358522184371/Sylvia-Plath-008.jpg&w=460&h=276&ei=cWYLUZnhDoiPrge79YD4Aw&zoom=1&ved=1t:3588,r:9,s:0,i:169&iact=rc&dur=7&sig=109860885588895511954&page=1&tbnh=162&tbnw=261&start=0&ndsp=17&tx=34&ty=138