Tags

Image

By: Rany Syafrina

Karya sastra telah dikenal berabad-abad yang lalu sebagai salah satu hasil buah karya seni manusia. Sekarang ini novel, drama, atau puisi yang dibukukan dapat dengan mudahnya, namun pada dahulu kala karya sastra diturunkan secara turun temurun dari mulut kemulut atau lebih dikenal dengan sebutan “oral tradition”. Sebelum di bukukan puisi pada awalnya berbentuk lagu atau lulaby yang dinyanyikan dari generasi ke generasi dari oorang tua ke anak cucu mereka. Bahkan The Odyssey kemungkinan besar berasal dari epic song yang dibuat oleh seorang penyair dan kemudian diturunkan ke generasi berikutnya. Karna karya-karya ini disampaikan secara turun temurun, banyak diantaranya yang anonymous atau tidak diketahui siapa penulis aslinya. Menurut Virginia Woolf kebanyakan anonymous author ini berkemungkinan besar adalah perempuan.

Meskipun keberadaan sastra sudah ada sejak berabad abad yang lalu, namun penulis wanita baru mulai mempublikasikan karya sastra mereka pada abad ke 17. wanita memiliki keterbatasan tidak hanya dalam mengekspressikan ide-ide mereka, tetapi juga dalam hal pendidikan, kehidupan sosial, dan apek-aspek lainnya. Keterbatasan perempuan dapat kita lihat pada kutian dibawah ini:
While unmarried women could own property and while a widow could inherit at least a portion of her husband’s estate, a married woman was not even consider a person in her own right; she could not own property or make a will; she had no rights to her children, no right to divorce. A married woman did not even have rights over her own body; an Englishman was permitted to imprisoned his wife in their house until as late as 1891,and no married woman could accuse her husband of rape, for until the second half of the 20th century,… all women are prevented from receiving the kind of education that men received. While British and American boys might learn Latin and Greek at school, giving them access to classical history and literature, a girl’s education, depending on her class, was more likely to occur at home and to consist of instruction in domestic arts such as sewing and cooking…. no young woman, whatever her class, had access to higher education; Oxford and Cambridge Universities were closed to women until the late 19th century, while Harvard University (founded in 1636) and Yale University (founded in 1701) did not admit women until tale in the 20th century. (Zilboorg, 23-24)
Dari kutipan diatas dapat dilihat bawah wanita mendapatkan keterbatasan dalam banyak aspek, sehingga menghalaingi mereka untuk berkembang dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Anak perempuan tidak mendapatkan pendidikan yang sama dengan anak laki-laki, mereka dilatih untuk menegerjakan tugas-tugas rumah tangga atau domestic activities sebagai bekal mereka ketika sudah berkeluarga nanti.

Salah satu kendala minimnya karya sastra wanita yang bisa di temukan adalah karena keterbatasan wanita untuk mempublikasikan tulisan yang telah mereka buat. Keterbatasan dalam pempublikasian inilah yang menyebabkan beberapa tulisan dari penulis wanita sangat dilindungi keberadaannya dan dijadikan sebagai dokumen sejarah. Selama masa medieval dan Reinassance, publikasi bukanlah hal yang mungkin dilakukan penulis wanita, Meskipun beberapa wanita memiliki bakat. Wanita mulai menulis pengalaman hidup mereka dalam bentuk diari atau jurnal yang hanya bisa dibaca oleh anggota keluarga dan teman terdekat saja, tetapi hasil tulisan mereka tersebut tidak di publikasikan.

Tema merupakan hal yang penting dalam setiap tulisan, seperti penulis pada umumnya, penulis wanita juga mengangkat beberapa tema tertentu sebagai pokok utama pada tiap-tiap tulisannya. Kebanyakan penulis wanita mengangkat beberapa tema yang sering di sampaikan lewat tulisan, seperti cinta, kehilangan dan respon-respon terhadap emosi. Namun ada juga beberapa penulis yang mendedikasikan tulisannya sebagai bentuk cintanya terhadap tuhan seperti Saint Theresa of Avila (1515-1582) yang melihat dirinya sebagai “bride of Christ” dan menggunakan tulisannya sebagai bentuk kecintaannya terhadap tuhan. Julian of Norwich juga merupakan seorang penulis wanita yang menexpressikan raa cintanya terhadap tuhan dalam A Book of Showings. Selain itu juga ada Margery Kemp yang menuliskan pengalaman spiritualnya dalam The Book of Margary Kemp yang menjelaskan keintimasiannya dengan tuhan.

Penulis Wanita Awal

Sappho (620-550 BC)
Sappho adalah seorang penulis puisi pada masa yunani kuno, Sappho juga dikenal sebagai penulis wantia pertama. Kebanyakan karya nya berupa puisi cinta dan epigram, yang kemudian beberapa diantaranya diterjemahkan ke dalam bahasa inggris seperti yang dilakukan oleh Richard Aldington pada karya To Atthis. Karya sappho kebanyakan mengambil tema tentang rasa cintanya terhadap musik, Athena, dan rasa cinta terhadap teman perempuannya. Pada karya Sappho kita dapat melihat fenomena lesbian dan sikap masyarakat yunani dalam mengartikan cinta.

Lady Murasaki (978-1031)
Penulis wanita tidak hanya dapat ditemukan pada wilayah eropa saja, seperti Lady Murasaki yang berasal dari jepang. Karya nya yang paling terkenal adalah The Tale of The Genji yang mengkisahkan cerita cinta pada abad ke 11 secara kompleks.

Next will be: Penulis wanita pada abad ke 17

Bibliography:
Zillboorg, Caroline. Women’s Writing: Past and Present. United Kingdom: Cambridge University Press.2004

the article can also be seen in : http://ranisyafrina.multiply.com/reviews/item/26

Image: http://www.google.co.id/imgres?q=sappho&hl=en&tbo=d&biw=1024&bih=636&tbm=isch&tbnid=3FEeBmQZoUgGBM:&imgrefurl=http://www.ucpress.edu/book.php%3Fisbn%3D9780520272934&docid=qkP5LLQ5QwGlVM&imgurl=http://www.ucpress.edu/img/covers/isbn13/9780520272934.jpg&w=597&h=1000&ei=2lcLUaijHs7PrQe7kYGgDg&zoom=1&ved=1t:3588,r:21,s:0,i:217&iact=rc&dur=316&sig=109860885588895511954&page=2&tbnh=194&tbnw=114&start=17&ndsp=18&tx=30&ty=141